Hak Anak Yang Terlupakan

hak anak menurut agama islam

Segala puji bagi Allah SWT. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat. Amin.

Diceritakan bahwa seseorang pernah datang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab RA dan mengadukan anaknya, dia mengatakan, “Anakku benar-benar durhaka kepadaku”. Lantas Umar mengatakan kepada anak tersebut, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah SWT dengan durhakanya engkau kepada ayahmu?”. Anak tersebut kemudian mengatakan kepada Khalifah Umar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak juga memiliki hak atas orang tuanya?” Lantas Umar menjawab, “Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus dan mengajarkan Al Qur’an (Pendidikan Agama). Lantas anak tersebut mengatakan, “Demi Allah SWT, ayahku tidak memilihkan aku ibu yang baik, ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya di pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yang baik untukku, ia menamaiku Ju’al (Sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan, bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional). Dan dia tidak pernah mengajariku Al Qur’an kecuali hanya satu ayat”.

Umar menoleh kepada sang ayah dan berkata, “Engkau mengatakan anakmu telah durhaka kepadamu, tetapi engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia durhaka kepadamu, enyahlah engkau dari hadapanku “. (Tanbihul Ghafilin hlm. 130 oleh as-Samarqandi).

Para pembaca yang budiman, benar, kita semua berharap dan menginginkan anak-anak kita semua menjadi penyejuk hati, berbakti kepada orang tuanya. Namun sering kita lalai, bahwa kita juga dituntut untuk memenuhi hak mereka. Saat anak tidak patuh kepada orang tuanya, tidak sejalan dengan kemauan dan nasihatnya, yang selalu disalahkan adalah si anak, padahal anak seperti itu adalah hasil dari didikan orang tuanya. Bersambung……

Sumber artikel : Buletin Dakwah Islam Al Fuwqon, tahun ke 10 vol. 2

Sumber gambar : sygmadayainsani.co.id