Ketika Embun Pagi Enggan Menyapa

Bencana kabut asap Siak Riau

Sebuah cerita….

Pagi itu kami berkoordinasi di kantor pusat, sembari menyiapakan perbekalan untuk trip yang menantang, sebuah perjalanan yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya, karena kami akan bertempur dengan asap. Trip kali ini, kami akan terjun langsung ke lokasi kabut asap yang sudah berlangsung cukup lama dan menimbulkan keprihatinan bagi saudara-saudara kita yang terkena dampak kabut asap. Tujuan kami dalam My Trip My Adventure ini adalah ke Kota Siak, Riau.

Setelah perjalanan telah berlalu, akhirnya pesawatpun mendarat di bandara terdekat. Kami pun turun, lalu coba melewati jalanan dan ternyata sungguh mengejutkan sekali kondisi udara di daerah sini. Asap begitu pekat dengan jarak pandang sekitar 500-800 meter. Ini sangat berbahaya bagi pengguna jalan dan harus ekstra hati-hati. Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Siak. Rombongan kami langsung menuju ke Dinas Pemadam Kebakaran Siak. Di sini kami diberikan pengetahuan singkat mengenai bagaiman memadamkan api. Setelah dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan di titik-titik api berada dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran. Kegiatan yang kami lakukan di sini adalah mendinginkan api. Mendinginkan api berbeda dengan memadamkan api. Memadamkan api adalah kegiatan untuk memadamkan api itu sendiri, sedangkan mendinginkan api adalah mendinginkan atau memadamkan sisa sisa kebakaran yang masih mengeluarkan asap. Jadi apinya sudah tidak ada tetapi masih mengeluarkan asap dan bisa berpotensi mengeluarkan api lagi.

Akhirnya kami sudah sampai di lokasi dekat dengan titik-titik api, kemudian kami bersama dengan tim mulai menurunkan saluran air dan menyambungkan satu demi satu menuju lokasi titik api. Jalur yang kami lalui ternyata tidak mudah, harus menembus semak-semak untuk sampai ke titik api. Di dekat lokasi titik api, terdapat kolam air buatan yang memang dipersiapkan untuk memadamkan api apabila air dari mobil damkar habis. Semua saluran air telah selesai tersambung dan kami sudah berada dekat dengan titik api yang masih mengeluarkan asap dan “woooossssshhh, semburan air terpancar dan kami arahkan ke titik api”. Ternyata tidak mudah untuk melakukan kegiatan ini. Membutuhkan tenaga ekstra juga harus hati-hati. Setelah  berjalan beberapa waktu, tiba-tiba salah satu tim kami merasakan sesak di dada dan terasa tidak kuat. Kami pun kemudian kembali lagi ke lokasi mobil damkar untuk memberikan pertolongan pertama. Setelah tim kami, kemudian saya juga merasakan agak sesak di dada. Sungguh terasa berat merasakannya. Saya pun diberikan bantuan oksigen oleh petugas. Kami yang baru sebentar saja merasakan asap terasa sesak dan berat, bagaimana lagi dengan sudara-saudara kita yang tinggal di sini dan merasakan asap pekat di bawah ambang batas normal selama berhari-hari?

Ketika embun pagi enggan menyapa, udara segar kian menghilang dan asap pekat menyesakkan dada. Menghapus keceriaan kami sehari-hari. Lalu sampai kapankah semua ini akan terjadi?

Ketika saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu saudara-saudara saya yang terkena dampak kabut asap, saya coba ikut berempati dan berdoa, semoga asap pekat dapat segera berakhir. Semoga hujan dapat turun dengan segera dan mematikan semua titik api penyebab kabut asap. Apabila kabut asap kebakaran ini karena suatu kesengajaan, semoga pihak-pihak yang menjadi pelaku menjadi sadar bahwa hal tersebut sangat-sangat tidak baik dan merugikan banyak pihak. Semoga bencana kabut asap ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari dan tidak menjadi langganan tiap tahunan di negeri ini. Amin.

Sumber Cerita : My Trip My Adventure Trans TV, tim Dion Wiyoko dan Rikas Harsa.

Referensi : www.tripriau.com, Sumber Gambar : news.liputan6.com

Catatan : Beberapa tulisan dengan karangan sendiri